Kasus ‘Ikan Asin’ Galih vs Fairuz dan Pepatah Sunda yang Nyata

LIHATLAGI.COM, Dunia hiburan tanah air tengah heboh memperbincangkan kasus ‘ikan asin’ Galih vs Fairuz.

Seperti diberitakan, Fairuz A Rafiq melaporkan mantan suaminya, Galih Ginanjar karena ucapan Galih di chanel Youtube Rey Utami & Pablo Benua menyinggung Fairuz.

Galih mengatakan sesuatu yang tidak pantas dengan sebutan ‘bau ikan asin’.

Tidak hanya Galih, Rey Utami dan Pablo Benua pun ikut terseret kasus ‘ikan asin’. Kedua pasangan selebriti ini dijerat UU ITE dan ditangkap Polisi dengan alasan menghilangkan barang bukti.

Atas ucapannya itu, kini ketiga pesohor itu harus mempertanggungjawabkannya di depan Polisi.

Baca juga: Profil dan Biodata Rey Utami Pablo Benua

Selain Galih, masih banyak deretan kasus akibat ucapan dan tulisan yang salah di media sosial.

Tentu kita tidak perlu menilai bahwa si anu baik, atau si anu buruk apalagi menghakimi karena kita bukan hakim. Tetapi kita (terutama saya) harus mengambil pelajaran dari setiap kejadian.

Kasus ‘ikan asin’ dan pepatah Sunda

Orang tua Sunda zaman dulu, sering melontarkan kata pepatah yang berbunyi, “kabeureuyanmah tara ku cucuk munding”.

kasus ikan asin galih dan fairuz
Cucuk via kompas.com

Do you know kabeureuyan?

Kalau dalam bahasa Indonesia, arti kabeureuyan itu duri (biasanya duri ikan) nyangkut di tenggorokan. Cucuk berarti duri, sedangkan munding artinya kerbau.

Secara bahasa, “kabeureuyanmah tara ku cucuk munding” artinya tulang kerbau tidak akan nyangkut di tenggorokan.

Pepatah tersebut merupakan siloka, bahwa celaka itu sering disebabkan oleh hal kecil, bukan oleh perkara besar.

Orang cenderung lebih hati-hati jika melakukan sesuatu yang besar. Tetapi sebaliknya, jika mengucapkan atau melakukan hal kecil (yang kadang menimbulkan masalah) kurang diperhatikan.

Makanya, ketika mendengar kasus ‘ikan asin’, saya langsung ingat pepatah orang tua di Suku Sunda.

“Mulutmu harimaumu”

Di kita juga dikenal sebuah pepatah yang berbunyi “mulutmu harimaumu”.

Kalau pepatah Sunda tadi sifatnya lebih luas; bisa ke lisan atau perbuatan. Pepatah mulutmu harimaumu lebih spesifik untuk menjaga lisan.

Pepatah senada mengatakan, “Lidah tak bertulang, tapi lebih tajam daripada pedang.”

Inti dari pepatah tersebut adalah ucapan bisa melukai perasaan orang lain. Sementara kita tahu bahwa luka hati itu sulit diobati. Lisan yang sudah terlanjur terucap tidak bisa dihapuskan. Luka yang tergores di hati seseorang pun akan membekas meskipun mulutnya memaafkan.

Saya juga jadi teringat pepatah Aa Gym, “teko akan mengeluarkan isi teko”.

Keluarkan kata-kata yang baik dari mulut dan jari-jarimu agar dampaknya baik, tidak melukai orang lain dan mencelakakan diri sendiri.

Demikian, semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan tulis komentar:
Ketik namamu di sini